full screen background image

Pembinaan Kelembagaan Petani Perkebunan Di Provinsi Bali

Page 20 Juni 2013 admin

i. Latar Belakang

o   Perkebunan di Bali adalah Perkebunan Rakyat , sehingga ada 2 (dua) unsur penting yang harus dibina yaitu :
     - Tanaman yaitu komoditi perkebunan yang dibudidayakan sesuai potensi daerah setempat.
     - Pekebun yaitu manusia / petani yang membudidayakan komoditi perkebunan / pengelola usaha tani perkebunan

o   Pola pembinaan pekebun ( petani perkebunan ) dilaksanakan secara berkelompok dan khususnya di Bali sejak tahun 2001 pembangunan perkebunan berbasiskan kelompok tani di lahan kering yang di Bali disebut Subak Abian.

o    Sampai saat ini jumlah Subak Abian di Bali adalah sebanyak 812 buah. Dari jumlah tersebut yang sudah memiliki ( sudah dapat menumbuhkan ) Unit Usaha Produktif baru sebanyak 191 buah Subak Abian, dan yang sudah memiliki ( sudah dapat menumbuhkan ) Koperasi Usaha Perkebunan yang berbadan hukum baru sebanyak 24 buah.  Sedangkan yang telah memiliki unit pengolahan hasil sebanyak 70 unit.

ii. Tujuan

o  Meningkatkan pendapatan pekebun khususnya dan masyarakat pedesaan pada umumnya.
o  Membudayakan dan melestarikan Subak Abian ( kelembagaan petani lahan kering yang ada di Bali yang merupakan warisan budaya ).

iii Pelaksanaan Pembinaan

o  Dilaksanakan oleh Dinas Kabupaten yang menangani perkebunan dengan sasaran :
     - Kelompok Tani ( diluar Subak Abian ) dengan jenis kegiatan :
        *Penumbuhan Kelompok Tani.
        *Pemantapan dan pengembangan Kelompok Tani.

     - Subak Abian dengan jenis kegiatan :
        *Penumbuhan Subak Abian.
        *Pengukuhan Subak Abian.
        *Klasifikasi Subak Abian.
        *Penumbuhan Unit Usaha Produktif dan Koperasi Usaha Perkebunan pada Subak Abian.
        *Penumbuhan Asosiasi Petani Komoditi Perkebunan.

o  Dilaksanakan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Bali, dengan sasaran :
    - Kelompok Tani ( diluar Subak Abian ) dengan kegiatan :
        *Inventarisasi dan validasi data Kelompok Tani.

    - Subak Abian dengan kegiatan :
        *Inventarisasi dan validasi data Subak Abian.
        *Pemberdayaan, Pelestarian, Pemantapan dan Pengembangan kegiatan Subak Abian.

    - Unit Usaha Produktif ( UUP ), dengan kegiatan :
        *Penumbuhan UUP pada masing – masing Subak Abian sesuai potensi yang ada.
        *Pengembangan dan pemantapan UUP yang dimiliki Subak Abian khususnya meliputi kelembagaan dan kegiatannya.
        *Inventarisasi dan validasi data UUP yang dimiliki Subak Abian.

    - Koperasi Usaha Perkebunan (KUP) yang sudah berbadan hukum dengan kegiatan :
        *Penumbuhan KUP pada masing – masing Subak Abian sesuai potensi setempat.
        *Pengembangan dan pemantapan KUP yang dimiliki Subak Abian khususnya meliputi kelembagaan dan kegiatannya.
        *Inventarisasi dan validasi data KUP yang dimiliki Subak Abian.

    - Asosiasi Petani Komoditi Perkebunan, meliputi kegiatan :
        *Penumbuhan Asosiasi Petani Komoditi Perkebunan sesuai potensi yang ada.
        *Pengembangan dan pemantapan Asosiasi Petani Komoditi Perkebunan khususnya mengenai kelembagaan dan kegiatannya.

iv. Penumbuhan
    1. Kegiatan pembinaan kelembagaan petani perkebunan yang bersumber pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi( APBD Prov ) yaitu dengan kegiatan :
        a. Penumbuhan Unit Usaha produktif (UUP) Th. 2010




































KabupatenKecamatanDesaSubak Abian
Jembrana Negara Kaliakah S Abian Carangsari
Buleleng Seririt Unggahan S Amerta Abian Werdhi
Badung Petang Pelaga S Abian Guna Marga
Klungkung Dawan Gunaksa S Abian Gunung Sari
Jumlah : 4 Kabupaten 4 Kecamatan 4 Desa 4 Subak Abian

        b. Penumbuhan Unit Usaha Perkebunan Tahun 2010
























KabupatenKecamatanDesaSubak Abian
Bangli Kintamani Catur S Abian Triguna Karya
Karangasem Kubu Tulamben Pule sari
Jumlah : 2 Kabupaten 2 Kecamatan 2 Desa 2 Subak Abian


V.  Konsepsi Pembinaan Subak Abian

    a. Parhyangan
       Jenis upacara dan pelaksanaannya.
        - Upacara Ngawiwit, yang dilaksanakan pada waktu petani menabur benih ditempat pembibitan.
        - Upacara memula, yang dilaksanakan pada saat mulai menanam.
        - Upacara neduh, dilaksanakan pada saat tertentu dengan harapan agar tanaman terhindar dari hama penyakit atau gangguan binatang lainnya.

       Upacara keagamaan yang dilaksanakan oleh krama Subak Abian pada umumnya ada dua jenis yaitu : upacara yang dilakukan oleh perorangan petani, dan upacara yang dilakukan oleh kelompok ( tempekan atau Subak Abian )
       Upacara yang dilakukan oleh petani secara perorangan antara lain  : Nyuinih
        - Upacara Nyuinih (melaksanakan pembibitan/perbenihan)
        - Upacara Penyiwit/nandur (mulai tanam)
        - Upacara mebiukukung (jelang panen)
        - Upacara panen
        - Upacara nakluk merana (mengusir Hama/penyakit)
        - Upacara Tumpek Uduh/bubuh (untuk semua tanaman)
        - Upacara kandang
        - Upacara Ngerasahin (1x setahun, selesai panen)
        - Upacara Penyepian (tidak boleh lakukan aktifitas pd saat istirahat penanaman/bera)

        Sedangkan upacara keagamaan yang dilakukan oleh tempekan atau Subak Abian antara lain :
        Untuk menghormati air sebagai sumber kehidupan, krama Subak Abian membuat penampungan air biasanya berbentuk sumur atau telaga tempatnya di tegalan yang telah disucikan sesuai kesepakatan krama.

Bilamana dilaksanakan Upacara” Mapag Toya “ upakara tersebut dilaksanakan pada sumur / telaga dimaksud. Upakara yang dilakukan oleh masyarakat Bali secara umujm adalah “Upacara Tumpek Bubuh” yang diklaksanakan pada “ Caniscara Keliwon Wariga” setiap 210 hari sekali, dalam rangka pemujaan kepada Dewa Sangkara sebagai dewanya tumbuyh – tumbuhan. Sebagai simbul yang digunakan mewakili tumbuh – tumbuhan dalam pelaksanaan upacara ini adalah tumbuh – tumbuhan yang paling berguna yaitu pohon kelapa dan pohon wani. Dasar pemiikiran dilaksanakannya upacara Tumpek Bubuh adalah sebagai cetusan upacara terima kasih atas Anugrah Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai sanghyang Sangkara yang memberikan kesuburan terhadap tumbuh – tumbuhan tanaman perkebunan. Disamping itu maksud pelaksanaan upacara tersebut adalah penanaman etika terhadap umat Hindu pada umumnya dan karma Subak Abian khususnya agar tidak melupakan keagungan dan Anugrah Ida Sang Hyang Widhi sehingga terpuruk dan terwujud rasa bakti yang semakin tebal dengan perwujudan kertiyasa dan yadnya, sehingga dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan hasil komoditi perkebunan / pertanian yang secara financial dapat meningkatkan taraf hidup krama.

Selain jenis upacara yang disebutkan diatas, masih banyak lagi upacara – upacara yang dilakukan oleh para petani yang pada dasarnya bertujuan untuk memohon kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa agar tanamannya tumbuh dengan subur serta memperoleh hasil sesuai dengan yang diharapkan. Jenis upacara yang dilakukan bermacam – macam bentuknya sesuai dengan dresta dan desa, kala, patra pada masing – masing Subak Abian misalnya upacara Nanggluk Merana.

Salah satu sarana yang dipergunakan untuk menolak hama atau Nanggluk Merana dikebun dilaksanakan dengan upacara keagamaan di Pura ( Sanggah Catu / Tugu, Pura Desa /Puseh atau Pura lainnya ) Yang diyakini secara tradisi / turun temurun dapat memberkahi kesuburan serta memperoleh hasil sebagaimana yang diharapkan. Selain itu ada juga tradisi nanggluk merana melalui sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat dan lingkungannya mengembangkan kesenian yang berbeda – beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Kesenian dimaksud berupa Baris Tombak, Gebuk Ende, Topeng, Barong, Sanghyang dan sebagainya yang secara indrawi telah terbukti bias menolak hama dikebun seperti Tikus, Kera atau Tanaman yang rusak.

Berbicara mengenai parhyangan dalam kontek Tri Hita Karana dimaksudkan mengenai hubungan antar manusia ( krama ) dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam segala manifestasiNya. Kata parhyangan itu sendiri bedrarti menunjukan suatu tempat suci atau tempat bersatunya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam segala manifestasiNya.

Tempat tersebut dalam Agama Hindu disebut Pura atau Kahyangan. Sebutan untuk Pura yang ada dilingkungan Subak Abian antara lain : Sanggah Catu / Tugu yang biasanya berada pada setiap kebun perorangan, Pura Puseh atau Pura Desa sebagai setana Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasiNya sebagai Dewa Kemakmuran / Dewa Sangkara sebagai bagian dari Pura Kahyangan Tiga yang disungsung oleh Desa Pekraman / Adat disamping disungsung oleh karma Subak Abian dan juga Pura yang lainnya seperti Pura Ulun Danu (terdapat di empat danau yang ada di Bali yaitu Danau Batur, Danau Buyan, Danau Beratan dan Danau Tamblingan ). Menurut Keputusan Kesatuan Tafsir ./Terhadap aspek – naspek Agama Hindu dikatakan bahwa Pura Subak Abian termasuk Pura Swagina ( Pura fungsional ) karena penyiwinya terikat oleh ikatan swaginanya ( kekayaannya ) yang mempunyai profesi sama dalam sistim mata pencaharian hidup.

    b.  Pawongan

        Pawongan merupakan suatu istilah yang menunjukan berbagai hubungan antara manusia atau antara krama Subak Abian yang mencakup tentang keberadaan anggota (krama) , kepengurusan (prajuru), tata cara rapat (paruman), ketata usahaan, awig-awig dan lain-lain
 
    1. Secara umum anggota Subak Abian (Krama Subak Abian) dapat dibedakan atas tiga kelompok yaitu :
       - Krama pengayah (anggota aktif) yaitu anggota Subak Abian yang secara aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan Subak Abian seperti gotong royong, kegiatan keagamaan, rapat-rapat dan sebagainya.
       - Krama pengampel ( anggota pasip) yaitu anggota Subak Abian yang karena alasan-alasan tertentu tidak terlibat secara aktif (mendapat dispensasi) dalam kegiatan-kegiatan tertentu.
       - Krama laluputan (anggota Khusus) yaitu anggota Subak Abian yang dibebaskan dari berbagai kewajiban Subak Abian, karena yang bersanguktan memegang jabatan tertentu dildalam masyarakat, seperti pemangku, bendesa adat, sulinggih (Satya Wacana , 1975; Pitana, 1989).
    
    2. Pengurus ( Prajuru ).
       - Ketua / Kelian Subak Abian.
       - Petajuh ( Wakil Kelian Subak Abian ).
       - Penyarikan ( Sekretaris ).
       - Petengen atau juru raksa ( Bendahara ).
       - Juru arah atau Kesinoman ( penyalur informasi ).
       - Saye ( pembantu khusus ).

    3. Hukum Adat tertulis ( Awig – awig ).

       Awig – awig adalah suatu bentuk hukum adapt tertulis yang memuat seperangkat kaedah – kaedah sebagai pedoman bertingkah laku dalam bermasyarakat petani dan disertai dengan sangsi – sangsi yang dilaksanakan secara tegas dan nyata. Selain mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan ( Tata Parhyangan ), Awig – awig juga mengatur hubungan manusia dengan manusiadan hubungan manusia dengan lingkungan ( Tata Palemahan ).

Setiap Subak Abian yang ada di Bali diharapkan agar mempunyai awig – awig secara tertulis ( menggunakan Dwi Aksana Eka Basa ) dan dilengkapi dengan perarem sebagai penjabaran, secara lebih rinci dari pada ketentuan dalam awig – awig.

    4. Rapat Anggota ( Paruman / sangkep ).

       Sebagai suatu organisasi yang hidup dan berkembang Subak Abian diharapkan mengadakan paruman secar berkala, baik paruman pada tingkat prajuru maupun paruman seluruh karma Subak Abian. Melalui paruman akan dapat dihimpun masukan-masukan atau pemikiran-pemikiran dalam rangka penyusunan program kerja organisasi (jangka pendek, menengah, panjang) usaha-usaha penggalian dana evaluasi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan, keadaan keuangan maupun nventaris lainnya. Di samping itu juga membahas mengenai masalah- masalah yang dihadapi untuk mendapat penyelesaian secara damai dan simpatik.

    5. Sumber dana (Keuangan)

       Keuangan merupakan hal yang sangat penting dalam setiap organisasi . demikian halnya dalam Subak Abian diperlukan sumber dana baik secara tetap maupun insedentil untuk menunjang kegiatan operasional Subak Abian. Sumber dana dimaksud dapat dikumpulkan sesuai dengan kesepakatan karma, misalnya berupa peturunan karma, sarin tahun, dedosan, bantuan dari Pemerintah dan sumber lainnya yang sah.

    6. Ketata usahaan ( administrasi )

       Ketata usahaan yaitu kegiatan pencatatan secara tertib, teratur dan berkelanjutan mengenai kegiatan – kegiatan yang akan dilaksanakan mulai dari perencanaan, pelaksanaan serta pengawasannya. Kegiatan pencatatan tersebut lebih dikenal dengan kegiatan administrasi. Administrasi memegang peranan penting dalam setiap organisasi untuk membantu kelancaran tugas –tugas pengurus / prajuru dalam mencapai tujuan organisasi secara keseluruhan. Kegiatan organisasi mencakup surat – menyurat ( surat masuk dan surat keluar ), penyusunanh program kerja, notulen rapat, pembukuan keuangan dan lain – lain.

    7. Sistim Gotong Royong.

       Gotong royong atau tolong menolong mengandung nilai yang sangat tinggi dalam kehidupan bermasyarakat yang merupakan cirri khas dari kehidupan masyarakat pedesaan yang dominan masyarakat petani.

Gotong royong atau tolong menolong merupakan suatu sistim pengerahan tenaga tambahan dari luar kalangan keluarga untuk membantu kekurangan tenaga pada saat tertentu dalam lingkaran aktifitas bercocok tanam diladang, maupun dalam kegiatan – kegiatan lainnya yang bersifat positif. Sistim gotong royong di Bali seolah – olah sudah menyatu dengan pola kehidupan masyarakat. Secara umum diilhami oleh ajaran agama ( Hindu ) seperti Tat Wam Asi, Karma Pala, Tri Kaya Parisuda, dan Tri Hita Karana yang pada dasarnya menganjurkan kepada setiap umat untuk mengedepankan sikap dan prilaku tolong menolong untuk tujuan - tujuan yang baik dan benar.

    8. Penyelesaian Sengketa.

       Disadari atau tidak bahwa dalam proses kegiatan bercocok tanam akan dijumpai permasalahan atau suatu kasus, baik yang berasal dari dalam maupun dating dari luar lingkaran persubakan. Terhadap permasalahan yang berasal dari dalam hendaknya dapat dilaksanakan secara damai berdasarkan ketentuan yang tersurat dalam awig – awig maupun pararem. Sedangkan untuk permasalahan / kasus yang berasal dari luar hendaknya dapat diselesaikan secara damai dan adil dengan melibatkan penegak hokum atau pejabat terkait yang berwenang untuk itu. Dalam penyelesaian masalah / kasus dimaksud agar dihindarkan perbuatan atau tindakan main hakim sendiri.

    3. Palemahan

    a. Tanah.

Masyarakat Bali telah terbiasa dengan kehidupan yang dekat dengan tanah, yang menggoreskan kehidupan yang tenang, damai dan bersahaja. Rupanya masyarakat Bali sangat menyadari bahwa mereka adalah produk dari permukaan tanah, ini tidak hanya berarti bahwa dia adalah anak tanah, debu dari debunya tetapi tanah dan air telah membesarkannya, menyuapinya, memberinya tugas, mengarahkan pikiran, mempertemukannya dengan kesulitan – kesulitan yang telah memperkuat badannyab dan mempertajam akalnya, Hal ini juga sebagai sebab terwujudnya kebudayaan Bali dan terjadinya pariasi kebudayaan yang sangat kaya dimiliki oleh masyarakat Bali yang disebabkan oleh keadaan tanah pulau Bali, itulah sebabnya tanah Bali sangat sacral karena tanah Bali telah melalui suatu upacara penyucian yang berulang – ulang.

    b. Wilayah Subak Abian.

Palemahan Subak Abian berada pada palemahan desa adat, oleh karena itu batas – batas Subak Abian sesuai dengan kenyataan dilapangan, bila hanya berada disatu desa adapt saja, maka palemahannya memakai batas wilayah desa adapt. Dan apabila meliputi dua desa adapt atau lebih, maka akan dilakukan kerjasama antar desa adat ( khususnya yang berkaitan dengan pelaksanaan upacara pada parhyangan ).

Subak Abian mempunyai wilayah yang merupakan hamparan kebun atau lahan kering yang dimiliki atau yang dikerjakan oleh panggotanya. Masing – masing wilayah Subak Abian dibagi – bagi menjadi beberapa blok yang lebih kecil yang disebut “ Tempek :” merupakan batas – batas alam berupa : jalan, kebun, jalan desa, sungai hutan dan sebagainya.

    c. Bibit dan bahan tanaman.

Usaha tani perkebunan diperlukan bibit tanaman atau bahan tanaman berupa : bibit, stek, penaung, cover crop dan sebagainya. Bahan tanaman tersebut hendaknya sudah dipastikan keunggulannya dan disesuaikan dengan keadaan tanah dan cuaca pada suatu tempat, dan hendaknya juga dikoordinasikan dengan Dinas Perkebunan dan instansi teknis lainnya.

    d. Peremajaan Tanaman.

Tanaman perkebunan yang sudah tua atau rusak perlu segera diremajakan dengan bibit unggul. Peremajaan tanaman dilaksanakan secara bertahap dan berkelanjutan, sehingga semua tanaman tua atau rusak dapat menjadi tanaman remaja yang unggul serta mampu berproduksi tinggi.

    e. Pemeliharaan Tanaman.

Kegiatan pemeliharaan tanaman perkebunan antara lain berupa pengaturan pohon penaung, pemangkasan tanaman, pembersihan gulma, penggemburan tanah, mulching, pengendalian hama, pemeliharaan terasering dan lain – lain. Dan untuk pertumbuhan dan produksi yang baik maka tanaman perlu diberikan pupuk. Jenis pupuk yang dianjurkan yaitu pupuk hijau ( kompos ), pupuk kandang atau pupuk buatan.

    f. Pola Tanam.

Pola tanam pada dasarnya menyangkut pengaturan mengenai waktu tanam dan jenis tanaman yang ditanam.. Pola tanam dimasing – masing Subak Abian yang ada di Bali sangat bervariasi, adanya hal ini sangat ditentukan oleh keadaan tanah, air yang ada pada masing – masing Subak Abian. Kondisi alam yang dihadapi para petani yang sangat bervariasi sehingga pekebun mengembangkan strategi mengembangkan pola tanam dengan pola – pola pengetahuan setempat yang dimiliki, dan hendaknya disadari bahwa populasi tanaman yang berlebihan tidaklah menjamin tercapainya produksi yang tinggi, akan tetapi tanaman yang teratur dalam jumlah yang optimal akan dapat memberikan hasil yang baik. Hendaknya para pekebun selalu mengadakan kontak, komunikasi kepada para petugas perkebunan dilapangan perihal jenis tanaman yang sebaiknya ditanam dan lain – lain.

Palemahan sebagai salah satu unsur dari pada Tri Hita Karana menggambarkan hubungan krama Subak Abian dengan alam lingkungannya. Palemahan Subak Abian adalah wilayah kerja dengan batas – batas yang sudah jelas.

MENU UTAMA

EVENT TERAKHIR

AGENDA

UNIT ESELON

TEKNOLOGI PRAKTIS

REKAP HARGA PASAR

LINK

SITUS PEMERINTAHAN

KOMODITI UNGGULAN

Klik pada gambar untuk melihat detail dari komoditi unggulan Dinas Perkebunan Provinsi Bali.

Lihat Semua