full screen background image

PETANI BERSYUKUR AGENSIA PENGENDALI HAYATI (APH) GAGALKAN SERANGAN JAP

Berita 30 Juni 2016 admin_disbun

JAP (Jamur Akar Putih) termasuk  satu penyakit yang sangat merugikan diantara penyakit lainnya yang dijumpai pada tanaman cengkeh di Bali. Penyakit ini disebabkan oleh serangan jamur Rigidoporus lignosus dan bila tidak dikendalikan dapat mematikan tanaman. Berbagai cara pengendaliannya seperti secara mekanis, kultur teknmis, biologis dan penggunaan kimiawi pilihan pengendalian alternative terakhir. Pengendalian secara biologis merupakan  pengendalian ramah lingkungan yakni dengan APH (Agensia Pengendalian Hayati) yaitu menggunakan musuh alami JAP. Musuh alami JAP adalah jamur trichoderma sp. Menurut Kelian  Subak Abian Werdhi Amertha (I Komang Yatno Pranoto) Desa Unggahan Kecamatan Seririt Kabupaten Buleleng melaporkan pada acara  evaluasi dan monitoring APH (Agensia Pengendalian Hayati) pada tanaman cengkeh (21/6 2016) bahwa serangan penyakit JAP tersebut pertama kali dilaporkan pada tahun 2010 dengan luas serangan 30 pohon dari luas areal tanaman cengkeh diwilayahnya 335,77 ha (67.154 pohon) yang dimiliki oleh 728 orang anggota. Atas laporan tersebut Dinas Perkebunan Provinsi Bali termasuk Kabupaten dan petugas lapangan mensosialisasikan bahayanya serangan JAP serta bagaimana teknologi  pengamatan sampai pengendalaiannya. Diduga serangan JAP diwilayah Subak Abian Werdhi Amertha tersebut dipicu keadaan lingkungan terlalu kering serta terbatasnya sumber bahan organic akibat adanya kegiatan memungut daun-daun cengkeh yang gugur untuk disuling menjadi minyak cengkeh. Kondisi tersebut berdampak pada tidak berkembangnya jamur musuh alami JAP yaitu jamur Trichoderma sp, demikian dijelaskan oleh Ir. Anang Priyono, M.Si Kepala UPT Laboratorium Pengendalian Hayati Dinas Perkebunan Provinsi Bali pada acara  evaluasi dan monitoring APH (Agensia Pengendalian Hayati) pada tanaman cengkeh (21/6 2016). Akibat kondisi lingkungan seperti tersebut diatas tahun 2011 serangan JAP semakin meluas yakni menjadi 268 ha petani semakin resah kwatir satu-satunya sumber penghidupannya tergantung pada tanaman cengkeh selain tanaman kakao, kopi, kelapa. Berkat kesigapan pemerintah baik dari pusat sampai ke aparat Desa bersama-sama petani telah melakukan berbagai upaya diantaranya kaji terap pengendalian JAP seluas 10 Ha biaya dari APBD I, perbanyakan dan penyebaran jamur Trichoderma 500 kg biaya dari APBN, Surat edaran Bupati Bulelelng No. 4306 tahun 2012 melarang mengambil/memungut daun-daun cengkeh, pelatihan petani melalui SL-PHT (Sekolah Lapang Pengendalian Hayati tanaman cengkeh 25 orang biaya dari APBN, pengadaan trichoderma dan pupuk organicserta cubing (1-2 cubang per petani) secara swadaya.

Dari hasil pengamatan lapangan pada saat kegiatan evaluasi dan monitoring APH pengendalian JAP tanaman cengkeh yang dilakukan oleh Ir. Anang Priyono,M.Si (Kepala Laboratorium Pengendalian Hayati) Dinas Perkebunan Provinsi Bali beserta staf (21/6 2016), tingkat penyembuhan tanaman cengkeh dari serangan JAP sudah lebih dari 90 % beberapa tanaman yang masih kelihatan sakit berada pada kebun-kebun yang kurang terwat. Upaya-upaya pengendalian JAP tanaman cengkeh tersebut diatas membuahkan hasil,sekarang tanaman cengkeh mulai hijau sebelumnya meranggas, petani bersyukur dan gembira.  

Denpasar Juni 2016

Penulis

I Made Artika (Pranata Humas Disbun Bali)

MENU UTAMA

EVENT TERAKHIR

AGENDA

UNIT ESELON

TEKNOLOGI PRAKTIS

REKAP HARGA PASAR

LINK

SITUS PEMERINTAHAN

KOMODITI UNGGULAN

Klik pada gambar untuk melihat detail dari komoditi unggulan Dinas Perkebunan Provinsi Bali.

Lihat Semua