full screen background image

KENDALIKAN OPT KAKAO DISBUN BALI TERAPKAN SL- PHT

Berita 09 Juni 2016 admin_disbun

Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) termasuk faktor penyebab rendahnya kuantitas dan kualitas hasil tanaman perkebunan disamping factor lainnya . Akibat serangan OPT, diperkirakan dapat menurunkan kerugian sekitar 30 % - 40 %.

Untuk menghindari kerugian akibat serangan OPT tersebut, sesuai ayat 1 pasal 20 Undang-Undang No. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanamanmengamanatkan “ Perlindungan Tanaman Dilaksanakan dengan Sistem Pengendalian Hama Terpadu” (PHT). Sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) adalah upaya pengendalian populasi atau tingkat serangan organisme pengganggu tumbuhan dengan menggunakan satu atau lebih dari berbagai teknik pengendalian yang dikembangkan dalam satu kesatuan untuk mencegah timbulnya kerugian secara ekonomis dan kerusakan lingkungan hidup. Dalam sitem tersebut penggunaan pestisida kimiawi dipergunakan secara bijaksana apabila perlakuan lain dinilai tidak mampu mengendalikan OPT dengan kata lain penggunaan pestisida kimiawi adalah tindakan pengendalian alternative terkahir.

OPT yang sering dijumpai menyerang komoditi kakao daerah Bali adalah hama Penggerek Buah Kakao (PBK),  Helopeltis dan Busuk Buah Kakao (BBK).

Agar petani pekebun baik laki-laki maupun perempuan mau dan mampu menerapkan PHT di kebunnya secara mandiri, maka petani perlu mempunyai pengetahuan dan ketrampilan tentang empat prinsip PHT yaitu 1). Budidaya Tanaman Sehat, 2). Pelestarian dan Pemanfaatan Musuh Alami, 3). Pengamatan rutin dan 4). Petani sebagai Ahli PHT/petani menjadi manajer di kebun sendiri.

Pengetahuan dan ketrampilan tersebut dapat diperoleh petani melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT).

Dalam mengendalikan OPT pada komoditi perkebunan, Dinas Perkebunan Provinsi Bali setiap tahun memfasilitasi kegiatan SL-PHT terutama untuk komoditi unggulan. Untuk tahun 2016 kegiatan SL-PHT dilaksanakan pada komoditi kakao dengan biaya dari APBN melalui anggaran Tugas Pembantuan (TP).

Persyaratan menjadi peserta SL-PHT komoditi kakao adalah Petani pemilik/penyewa atau petani penggarap, Berumur minimal 17 tahun dan sehat, dapat menulis, membaca, dan mampu berbahasa Indonesia, Sanggup mengikuti SL-PHT selama 16 kali pertemuan tanpa terputus, peserta tidak boleh diganti. Peserta dikelompokkan dan setiap kelompok beranggotakan 25 orang dan minimal 25 % dari keanggotaan kelompok tersebut adalah perempuan. Setiap kelompok SL-PHT dipandu oleh 2 orang PL yang telah bersertifikat. Dalam kondisi tertentu 1 kelompok SL-PHT dapat dipandu oleh 1 orang PL dibantu 1 orang petugas teknis yang mempunyai kemampuan sebagai pemandu. Dan selaku Pembina SL-PHT adalah Direktorat Perlindungan Perkebunan, Dinas Perkebunan Provinsi Bali dan Dinas Kabupaten yang membidangi perkebunan.

Pelaksanaan SL-PHT kakao tahun 2016 dipusatkan pada sentra produksi kakao daerah Bali sebanyak 3 (tiga) kelompok masing-masing berlokasi di Kabupaten Jembrana/Pekutatan, Desa Gumbrih Subak Abian Merta Nadi, Kecamatan Pekutatan Desa Pohsanten, Subak Abaian Amerta Sari dan Kabupaten Tabanan Kecamatan Penebel Desa Tengkudak Subak Abian Manik Pecatu dengan anggota masing-masing kelompok 25 orang.

 

Tempat SL-PHT kakao dilaksanakan di kebun dan saung pertemuan,dengan metoda yaitu :a. Pertemuan dilaksanakan sebanyak 16 kali dengan interval satu minggu secara kontinyu.b. Pertemuan mingguan dipandu oleh dua orang PL yang bekerja sebagai tim. c. Narasumber diundang untuk memberikan materi yang belum dikuasai oleh PL dan dibutuhkan peserta SL-PHT. Narasumber berasal dari dinas Provinsi. d. Metode belajar melalui pendekatan andragogi (metode belajar orang dewasa) yaitu belajar dari pengalaman di lapangan sehingga petani tahu, mau dan mampu menerapkannya secara mandiri.e. Proses belajar mengajar dilakukan dengan metode partisipasi aktif, mencari, dan menumbuhkan kepercayaan sendiri, serta mengambil keputusan bersama dalam menentukan tindakan pengelolaan kebun.f. Proses belajar SL-PHT pada setiap pertemuan adalah melakukan, mengungkapkan, menganalisa, menyimpulkan, menerapkan dan melakukan kembali.g. Pada setiap kali pertemuan dilakukan kegiatan Analisis Agroekosistem (AAES).

Waktu pelaksanaan SL-PHT Kakao disetiap lokasi yaitu di Kabupaten Jembrana/Pekutatan, Desa Gumbrih Subak Abian tanggal 1 Aprildan berkahir 29 Juli 2016, Kabupaten Jembrana Kecamatan Pekutatan Desa Pohsanten, Subak Abian Amerta Sari tanggal 29 Maret berakhir 19 Juli 2016, Kabupaten Tabanan Kecamatan Penebel Desa Tengkudak Subak Abian Manik Pecatu 7 April berakhir tanggal 4 Agustus 2016.

Denpasar,

I Made Artika (Pranata Humas Disbun Bali)

MENU UTAMA

EVENT TERAKHIR

AGENDA

UNIT ESELON

TEKNOLOGI PRAKTIS

REKAP HARGA PASAR

LINK

SITUS PEMERINTAHAN

KOMODITI UNGGULAN

Klik pada gambar untuk melihat detail dari komoditi unggulan Dinas Perkebunan Provinsi Bali.

Lihat Semua