full screen background image

TINGKATKAN MUTU KAKAO DISBUN BALI LAKSANAKAN KEGIATAN CAPACITY BUILDING PENGUJIAN MUTU BIJI KAKAO

Berita 24 Mei 2016 admin_disbun

           Di Bali kakao termasuk komoditi unggulan dengan luas areal tercatat14.482 ha lokasinya tersebar di 8 Kabupaten dengan  pusat pengembangan di Kabupaten Tabanan dan Jembrana. Total produksi tahun 2015 sebanyak 6.331,79 ton biji kakao kering.

Biji kakao yang baik, menurut standar perdagangan dunia adalah yang terfermentasi sempurna, berbau khas kakao, tidak mengandung kotoran fisik, serangga, dan jamur. Batas toleransi off-grade yang diperkenankan kurang dari 3% dari bobot keseluruhan. Berdasarkan pengamatan dan berbagai hasil penelitian kakao di Indonesia maupun dunia, permasalahan kualitas biji kakao dapat dibagi ke dalam beberapa golongan besar yaitu pemalsuan mutu (adulterasi), residu pestisida dan logam berat, bakteri enteropatogen dan salmonela, jamur dan mikotoksin, serta isu terbaru senyawa Advanced Glycation Ends (AGE) sebagai produk samping proses penyangraian (roasting).

Kelemahan utama mutu kakao di Bali adalah cita rasa (flavour) yang lemah, belum mantapnya konsistensi mutu, masih ditemukan biji-biji yang kurang/tidak terfermentasi secara sempurna. Kelemahan tersebut adalah permasalahan pasca panen yang harus ditangani untuk memperbaiki citra perkakaoan di Provinsi Bali dan meningkatkan daya saingnya dipasaran nasional dan internasional.    

Pada era globalisasi,  persaingan pasar biji kakao akan cendrung semakin ketat,  dan konsumen akan memilih kakao yang  berkualitas. Kualitas olahan kakao tidak hanya dipengaruhi oleh kualitas bahan baku tetapi juga sangat dipengaruhi oleh cara penanganan panen, pasca panen yang baik. Penanganan panen, pasca panen dan pengolahan hasil kakao di Provinsi Bali hingga saat ini secara umum masih ditangani secara non fermentasi hal ini ditandai dengan pengelolaan hasil panen yang kurang optimal, sehingga mutu hasil olahan umumnya masih sangat rendah dan cendrung bervariasi. Akibat dari redahnya kualitas hasil olahan biji kakao adalah hilangnya kesempatan petani untuk menikmati nilai tambah ( Added Value ) sehingga pendapatan mereka tidak layak.

Untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu biji kakao di Provinsi Bali Dinas Perkebunan Provinsi Bali melalui melalui Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal PPHP pada tahun 2016 ini memfasilitasi kegiatan Capacity Building Pengujian biji kakao SNI  2323-08.

Tujuan serta sasaran dari kegiatan tersebut yakni meningkatkan kemampuan teknis bagi Pembina di Tingkat Provinsi, Kabupaten dan Kecamatan serta pengurus UPH Kakao tentang SOP dan SPEK kakao sesuai dengan SNI biji kakao (2323-08 amandemen 2010).

Sasaran kegiatan adalah Petugas pembina di Tingkat Provinsi, Kabupaten dan Kecamatan di Wilayah Jembrana dan Tabanan dan pengelola Unit Pengolahan Hasil (UPH ) pada subak abian yang berbasis kakao sebanyak 30 orang.

kegiatan Capacity Building Pengujian Biji kakao telah dilaksanakan selama 2 (dua) hari dari tanggal 11 s.d 12 Mei 2016. Kegiatan ini menghadirkan nara sumber dari Ditjen Bun - Kementan, Fakultas Pertanian Program Agribisnis UNUD, dan PT. Bumi Tangerang Mesindotama. Diakhir kegiatan dilaksanakan dengan Uji Mutu Kakao Sesuai SNI 2323-08 di PT.  Bumi Tangerang  yang ada di Desa Temukus – Buleleng.

MENU UTAMA

EVENT TERAKHIR

AGENDA

UNIT ESELON

TEKNOLOGI PRAKTIS

REKAP HARGA PASAR

LINK

SITUS PEMERINTAHAN

KOMODITI UNGGULAN

Klik pada gambar untuk melihat detail dari komoditi unggulan Dinas Perkebunan Provinsi Bali.

Lihat Semua